ASDP: Kondisi Cuaca di Lintasan Pelabuhan Bira-Pamatata Relatif Lebih Teduh
0 menit baca
EDITOR KOTA | BULUKUMBA — Kondisi cuaca pelayaran di lintasan penyeberangan Pelabuhan Bira-Pamatata, disebut, PT. Angkutan Sungai Danau dan Penyebarangan (ASDP) Indonesian Ferry (Persero) Cabang Selayar, masih relatif aman untuk pelayaran armada kapal ferry, meski terkadang memang, cuaca tiba tiba berubah ekstrem.
Dari hasil pengamatan PT. ASDP Indonesian Ferry (Persero) Cabang Selayar, kondisi cuaca pelayaran di lintasan penyeberangan Pelabuhan Bira-Pamatata dalam beberapa hari terakhir, relatif mulai membaik, teduh, dan lebih aman dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Kendati begitu, PT. ASDP Indonesian Ferry (Persero) Cabang Selayar, tetap intens membangun hubungan komunikasi antar pelabuhan untuk memantau pergerakan kapal dan saling bertukar informasi terkait dengan perkembangan kondisi cuaca pelayaran terkini.
Sebelumnya, PT. ASDP Indonesian Ferry (Persero) Cabang Selayar, sempat menerapkan sistem buka tutup pelayaran untuk lintasan Bira-Pamatata yang disertai dengan penundaan jadwal keberangkatan kapal.
Sistem buka tutup diterapkan PT. ASDP Indonesian Ferry (Persero) Cabang Selayar, demi keamanan dan keselamatan pelayaran dengan mendasari perkembangan situasi cuaca yang dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Hal tersebut diutarakan General Manager (GM) PT. ASDP Indonesian Ferry (Persero) Cabang Selayar, Fauzi, saat dihubungi, by sambungan telefon selular oleh wartawan, Senin, (19/1) malam.
Fauzi menandaskan, PT. ASDP Indonesian Ferry (Persero) Cabang Selayar, tetap berkomitmen mengutamakan prinsip dasar keamanan serta keselamatan pelayaran dalam melakukan pelayanan terhadap pengguna jasa dan penumpang kapal.
Oleh karenanya, kapal dijamin tidak akan diberangkatkan dalam kondisi cuaca buruk.
Pihaknya, tidak ingin mengulang catatan sejarah kelam, tragedi karamnya, KMP. Dharma Manggala di pintu kolam Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba, yang disusul oleh peristiwa tenggelamnya, KM. Lestari Maju di pesisir pantai Pa'badilang, Desa Bungaia, Kecamatan Bontomate'ne. Dua rangkaian tragedi kapal naas yang menelan belasan orang korban jiwa.
Catatan sejarah kelam kedua tragedi kapal naas tersebut, kata Fauzi, cukup menjadi pembelajaran yang berharga dan tidak perlu terulang kembali, pungkasnya mengakhiri sesi perbincangan dengan wartawan di ujung saluran telefon selular. (Fad)
BACA JUGA: Aneka Resep Masakan Sehari-hari Khas Sunda
